Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2012

Be Like Aisyah :)

“Sebaik-baik wanita adalah yang tidak memandang dan dipandang” -saidatina aisyah ra- Jangan kau berasa bangga dengan kecantikanmu sehingga kau dikejar jutaan lelaki. Itu bukan kemuliaan bagimu. Jika kau berasa bangga, kau menyamakan dirimu dengan pepasir di pantai, yang boleh dipijak dan dimiliki sesiapa sahaja. Muliakanlah dirimu dengan taqwa, setanding mutiara Zabarjad, yang hanya mampu dimiliki penghuni syurga ^__^

Read Full Post »

“Fatimah anakku, mahukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan isteri yang dicintai suami?” tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. “Tentu saja, wahai ayahku”
“Tidak jauh dari rumah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya dan dia merupakan wanita pertama yang masuk syurga. Namanya Siti Muthi’ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu”.
Gerangan amal apakah yang dilakukan Siti Muthi’ah sehingga Rasul pun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi’ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil itu.
Begitu gembira Muthi’ah mengetahui tamunya adalah puteri Nabi besar itu. “Sungguh, bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu ini, Fatimah.namum aku perlu meminta izin suamiku terlebih dahulu, pulanglah dan datanglah esok harinya.”
Keesokkan harinya Fatimah datang membawa bersama anaknya Hassan. Apabila Siti Muthi’ah melihat Fatimah membawa seorang kanak-kanak lelaki bersamanya, maka berkatalah dia.
“Maafkanlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat,padaku tidak boleh menerima tamu lelaki dirumah ini, izinkan aku meminta kebenaran suamiku dahulu, pulanglah dan datanglah keesokkan harinya.”
“Ini Hasan puteraku sendiri, ia kan masih kanak-kanak.” kata Fatimah sambil tersenyum.
“Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tidak ingin mengecewakan suamiku, Fatimah.”
Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi’ah. Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah Fatimah kembali ke Muthi’ah.

“Aku jadi berdebar-debar,” sambut Siti Muthi’ah, gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin kerumahku, wahai puteri Nabi?”
“Memang benarlah, Muthi’ah. Ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku kesini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu, Wahai Muthi’ah.”
Muthi’ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun Muthi’ah masih ragu. “Engkau bercanda sahabatku? aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapun seperti yang engkau lihat sendiri.”
“Aku tidak berbohong wahai Muthi’ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya.” Siti Muthi’ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengaja Fatimah melihat sehelai kain kecil, kipas dan sebilah rotan di ruangan kecil itu. 
“Buat apa ketiga benda ini Muthi’ah” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pula”
“Sungguh luar biasa pekertimu, Muthi’ah. Lalu untuk apa rotan ini?”
Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setelah ia bangun dan mandi, kusiapkan pula makan dan minum untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya: “Oh, kekanda. Bilamana pelayananku sebagai isteri dan masakkanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima hukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutlah kesalahanku agar tidak kuulangi”
“Seringkah engkau dipukul olehnya, wahai Muthi’ah?” tanya Fatimah berdebar-debar.
“Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justeru akulah yang ditarik dan didekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari”.
“Jika demikian, sungguh luar biasa, wahai Muthi’ah. Sungguh luar biasa! Benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik.” kata Fatimah terkagum-kagum.

 Gambar

Read Full Post »

Gambar
 
 
Mampukah aku menjadi seperti Khadijah? 
Agung cintanya pada Allah dan Rasul, 
Hartanya di perjuangkan di jalan fisabillilah,
Penawar hati kekasih Allah, 
Susah dan senang rela bersama…
 
Dapatkah ku didik jiwa seperti Siti Aisyah?
Isteri Rasulullah yang bijak, 
Pengobat kesusahan dan penderitaan, 
Tiada sukar untuk dilaksanakan…
 
Mengalir air mataku,
Melihat pengorbanan puteri solehah Siti Fatimah,
Patuh dalam setiap perintah, 
Taat pada ayahnya yang sentiasa berjuang, 
Tiada memiliki harta dunia, 
Layaklah dia sebagai wanita penghulu syurga…
 
Ketika aku marah, 
Ingin ku intip serpihan sabar, 
Dari catatan hidup Siti Sarah…
 
Tabah jiwaku,
Setabah umi Nabi Ismail,
Mengendong bayinya yang masih merah,

Mencari air penghilang dahaga, 
Di terik padang pasir mekkah,
Ditinggal suami patuh tanpa bantah,
Pengharapannya hanya pada Allah,
Itulah wanita solehah Siti Hajar…
 
Mampukah aku menjadi wanita solehah
Mati dalam keunggulan iman,
Bersinar indah, harum tersebar,
Bagai wanginya pusara Masyitah..
 
 

Read Full Post »

Namanya adalah Sumayyah binti Khayyat, hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Mekah. Karenanya, tidak ada kabilah yang dapat membelanya, menolongnya, dan mencegah kezaliman atas dirinya. Sebab, dia hidup sebatang kara, sehingga posisinya sulit di bawah naungan aturan yang berlaku pada masa jahiliyah.

Begitulah Yasir mendapatkan dirinya menyerahkan perlindugannya kepada Bani Makhzum. Beliau hidup dalam kekuasaan Abu Hudzaifah, sehingga akhirnya dia dinikahkan dengan budak wanita bernamaSumayyah. Dia hidup bersamanya dan tenteram bersamanya. Tidak berselang lama dari pernikahannya, lahirlah anak mereka berdua yang bernama Ammar dan Ubaidullah.

 
Tatkala Ammar hampir menjelang dewasa dan sempurna sebagai seorang laki-laki, beliau mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada beliau. Akhirnya, berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana berpikirnya penduduk Mekah. Karena kesungguhan dalam berpikir dan fitrahnya yang lururs, maka masuklah beliau ke dalam agama Islam.
Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut. Ternyata Yasir dan Sumayyah menyahut dakwah yang penuh barakah tersebut dan bahkan mengumumkan keislamannya, sehingga Sumayyah menjadi orang ketujuh yang masuk Islam.

Dari sinilah dimulainya sejarah yang agung bagi Sumayyah yang bertepatan dengan permulaan dakwah Islam dan sejak fajar terbit untuk yang pertama kalinya.

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam bahkan mengumumkan keislamannya dengan kuat, sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya, melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari din mereka, mereka memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat, akan tetapi tiada terdengar rintihan ataupun ratapan melainkan ucapan Ahad… Ahad…,

beliau ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan olehYasir, Ammar, dan Bilal.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam menyaksikan keluarga muslim tersebut yang tengah disiksa degan kejam, maka beliau menengadahkan ke langit dan berseru:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Jannah.”

Sumayyah mendengar seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam, maka beliau bertambah tegar dan optimis, dan dengan kewibawaan imannya dia mengulang-ulang dengan berani, “Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Rasulullah dan aku bersaksi bahwa janjimu adalah benar.”

Begitulah, Sumayyah telah merasakan lezat dan manisnya iman, sehingga bagi beliau kematian adalah sesuatu yang remeh dalam rangka memperjuangkan akidahnya. Di hatinya telah dipenuhi akan kebesaran Allah Azza wa Jalla, maka dia menganggap kecil setiap siksaan yang dilakukan oleh para taghut yang zalim. Mereka tidak kuasa menggeser keimanan dan keyakinannya sekalipun hanya satu langkah semut.

Sementara Yasir telah mengambil keputusan sebagaimana yang dia lihat dan dia dengar dari istrinya, Sumayyah pun telah mematrikan dalam dirinya untuk bersama-sama dengan suaminya meraih kesuksesan yang telah dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam.

Tatkala para taghut telah berputus asa mendengar ucapan yang senantiasa diulang-ulang oleh Sumayyah, maka musuh Allah Abu Jahal melampiaskan keberangannya kepada Sumayyah dengan menusukkan sangkur yang berada dalam genggamannya kepada Sumayyah. Maka terbanglah nyawa beliau yang beriman dan suci bersih dari raganya. Beliau adalah wanita pertama yang mati syahid dalam Islam. Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan. Beliau telah mengerahkan segala apa yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. “Dan mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanannya.”

Sumber: kitab Nisaa’ Haular Rasuul, karya Mahmud Mahdi al-Istanbuli dan Musthafa Abu an-Nashr asy-Syalabi, 

 

Gambar

Read Full Post »

Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih.. Allah sudah menghitung airmatamu.

Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu terasa berlalu begitu saja… Allah sedang menunggu bersama-samamu…

Ketika segalanya menjadi sesuatu yang tidak masuk akal dan kau merasa tertekan… Allah bersamamu untuk menenangkanmu…

Ketika kau fikir bahwa kau sudah berusaha sesun

gguhnya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi… Allah mempunyai jawapannya…

Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur… Allah telah pun memberkatimu…

Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelefon dirimu… Allah sentiasa berada di sampingmu…

Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan… sebenarnya Allah sedang berbisik kepadamu…

Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban… Allah akan tersenyum kepadamu…

Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi…Allah sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu…

Oleh karena itu ingatlah bahwa di manapun kau atau ke manapun kau berada…Allah akan mengetahui dan senantiasa berada di sampingmu…

 
Gambar

Read Full Post »

Terjawablah pujian: “Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.” -Menyimak Kicau Merajut Makna-

Read Full Post »

Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan: “Bahkan walau ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.” -Menyimak Kicau Merajut Makna-

Read Full Post »

Older Posts »