Feeds:
Posts
Comments

Nuh belum tahu bahwa banjir nantinya tumpah ketika di gunung ia menggalang kapal dan ditertawai
Ibrahim belum tahu bahwa akan tercawis domba ketika pisau nyaris memapas buah hatinya
Musa belum tau bahwa lautan kan terbelah saat ia diperintah memukul tongkat
Di Badar Muhammad berdoa, bahunya terguncang isak “Andai pasukan ini kalah, Kau takkan lagi disembah!”

Mereka belum tahu jika keajaiban Allah akan datang, yang mereka tahu hanyalah “Allah bersamanya. Dan alangkah cukup itu baginya”

Salah satu kisah dalam “Jalan Cinta Para Pejuang” yang membuat saya merinding

Advertisements

Maka hari ini, jika puasa terasa melemahkan, jika tarawih melelahkan, jika tilawah memayahkan, mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Mesir, dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah, ketika kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzhaliman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.

Hari ini kami minta izin pada Shalih(in+at) tuk memohon, bagian dari kepedulian itu

- Salim A. Fillah

Sebuah perenungan… 10 Ramadhan…

Maka hari ini, jika puasa terasa melemahkan, jika tarawih melelahkan, jika tilawah memayahkan, mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Mesir, dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah, ketika kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzhaliman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.

Hari ini kami minta izin pada Shalih(in+at) tuk memohon, bagian dari kepedulian itu

- Salim A. Fillah

Maka hari ini, jika puasa terasa melemahkan, jika tarawih melelahkan, jika tilawah memayahkan, mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Mesir, dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah, ketika kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzhaliman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.

Hari ini kami minta izin pada Shalih(in+at) tuk memohon, bagian dari kepedulian itu

- Salim A. Fillah

Maka hari ini, jika puasa terasa melemahkan, jika tarawih melelahkan, jika tilawah memayahkan, mari menatap sejenak ke arah Mesir dan Suriah.

Sebab mereka nan mewakili kita di garis depan iman, dibakar musim panas, direpotkan hajat, dicekam ancaman, disuguhi besi dan api, tapi teguh.

Mereka nan darahnya mengalir dengan tulang pecah, tapi tak hendak membatalkan shaum sebab ingin syahid berjumpa Rabbnya dalam keadaan puasa.

Mereka gadis-gadis belia yang menulis nama di tangannya, agar jika syahadah menjemput dan jasad remuk tiada yang susah bertanya siapa namanya.

Hari ini ketika kolak dan sop buah tak memuaskan ifthar kita, tataplah sejenak ke negeri yang kucing pun jadi halal karena tiadanya makanan.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Mesir, dengan kepahlawanan mereka nan lebih suka bertemu Allah daripada hidup membenarkan tiran.

Hari ini sungguh kita ditampar Allah dengan Suriah, ketika kisah Ibu yang memasak batu dan menidurkan anaknya dalam hujan peluru adalah fakta.

Sebab mungkin 60 tahun penjajahan kiblat pertama, masjid suci ketiga, dan penzhaliman atas ahlinya belum utuh mencemburukan hati imani kita.

Hari ini kami minta izin pada Shalih(in+at) tuk memohon, bagian dari kepedulian itu

- Salim A. Fillah

Inilah Hidup …

Iya,

Aku sering melakukan kesalahan
Tapi bukan berarti tidak ada hal benar yang pernah kulakukan
Silahkan kalian mau fokus menilai yang mana
Karena aku akan lebih memusingkan
Memperbaiki yang keliru
Menyempurnakan yang benar

Iya,
Aku juga sering menangis
Satu dua bahkan terisak dalam, tergugu
Tapi bukan berarti aku tidak pernah tertawa
Silahkan kalian mau menilai yang mana
Karena aku memilih mengingat hal2 membahagiakan
Belajar dari hal2 menyedihkan
Agar besok tidak terulang kembali

Iya,
Aku pun sering menyesal
Bahkan satu-dua penyesalan lama bertahun2
Tapi bukan berarti aku tidak berdiri gagah menghadapi hidup ini
Silahkan kalian mau menghakimi apapun
Karena aku lebih baik berdiri setiap kali terjatuh
Menjadikan kekeliruan sebagai masukan
Dan memastikan tidak ada penyesalan di ujung kisah

Iya,
Aku tidak sempurna
Aku boleh jadi juga tidak pintar
Tapi aku aku akan melalui kehidupan ini
Hari demi hari
Melihat dunia terbentang luas
Belajar banyak hal
Apapun yang akan kalian katakan
Inilah hidupku
Dan kebahagiaanku ada di hatiku
Bukan di hati kalian

– Tere Liye –

“Tuhan mengijinkanku menjatuhkan rasa dihatimu untuk mengajarkanku dua hal; ‘bersabar’ untuk menunggu dan ‘ikhlas’ untuk melepaskan” – janariayyu-

Saya suka memandangi langit. Sepertinya yang jauh itu terasa dekat.
Karena kita berada di bawah satu langit yang sama. Semoga Allah selalu menjagamu dalam cinta
#repost

Alasan.

Orang bilang, mencintai tidak membutuhkan alasan.

Bila mencintai memerlukan alasan, apa alasanmu mencintaiku?

Bila kau mencintaiku karena kekayaanku, jelas, kau mencintai orang yang salah. Aku bukan dari keluarga kaya raya. Biasa saja. Semua serba cukup. Tak perlu bermewah-mewah. Ada ketika butuh, alhamdulillah. Bila kau mencintaiku karena harta kekayaanku, aku takut kamu tidak mampu bertumbuh, mengembangkan potensi dan tanggung jawabmu dalam menafkahi keluargamu kelak, karena kau menggantungkan nasib keluargamu dari harta kekkayaan orang lain, bukan hasil jerih payah kita sendiri.

Bila kau mencintaiku karena kecantikan paras dan fisikku, kau salah telah mencintaiku. Aku bukan perempuan paling cantik sedunia. Fisikku biasa saja. Parasku pun. Jerawat yang mampir setiap bulannya. Perlengkapan rias pun aku tak pandai menggunakannya. Bajuku pun tak selalu modis. Aku takut, bila kau mencintaiku karena kecantikanku, kau akan menuntutku berdandan ala selebriti papan atas. Mengikuti mode terkini. Berias dalam segala kesempatan. Selalu cantik, menawan seperti Barbie. Kamu tak akan pernah mengizinkanku menjadi diri sendiri.

Bila kau mencintaiku karena kesempurnaan agamaku, kau keliru mencintaiku. Aku bukan ulama, pun perempuan paling sholehah sedunia. Aku hanya seorang pembelajar. Yang berusaha istiqamah agar selalu berjuang di jalan-Nya. Aku tak butuh pandangan rendahmu, hanya karena pengetahuan agamaku yang tak setinggi ilmumu. Aku butuh teman, rekan dalam perjalanan dalam menuju surga-Nya.

Aku tak sempurna. Pun belum layak dikatakan seorang bidadari surga. Aku hanya ingin dicintai karena aku memiliki potensi untuk bisa berkembang bersamamu, bukan karena kecantikan fisik yang nomer satu. Karena bersamamu nanti, aku akan tumbuh, berjalan beriringan, bukan saling berjauhan.

oleh : Luthfi Rizki Fitriana